Thursday, December 15, 2011

Cerpen Bahasa Indonesia

Ladies First ♥
Angela Laminto
X2/4

KRIINNNNNGGGGGGGGGGG!!!
            Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi tepat pada PK 14.25, sepasang sahabat, Adel dan Vino, memasang mimik gembira karena dapat melepas penat yang sempat mengikat pikiran mereka sepanjang kegiatan belajar mengajar berlangsung, terutama pada pelajaran Akuntansi.
            Yap, Mereka sama-sama menginjak usia 16 tahun, dan sudah bersahabat lama sejak mereka duduk di bangku 3 SMP.
            Adel dan Vino berjalan menuju parkiran. Mereka sudah biasa berangkat dan pulang bersama karena mereka tinggal di komplek yang sama. “Eh, Adel!,” sahut seorang lelaki dari belakang. Itu Ardi, cowok yang terkenal playboy di sekolah. “Siapa sih yang gak kenal Ardi? Dia itu populer, karena dia playboy!” ujar sahabat curhat Adel, yaitu Dela.
            Adel menoleh dan mendapati uluran tangan Ardi yang sedang menggenggam pensil spongebob yang Ardi pinjam darinya tadi. “Nih, thankyou ya,” ujarnya. Adel mengambil pensil itu dari tangan Ardi dan mengangguk.
***
            “Lo suka ya sama Ardi?,” Tanya Vino sambil menjawab PR Kimia di rumah Adel, penasaran. Adel mengerutkan keningnya, “Suka? Hmm, kalo iya gimana dong?,” tanyanya kecewa terhadap dirinya sendiri. Adel tak percaya dirinya bisa menyukai cowok playboy seperti Ardi. Vino hanya dapat tertawa meledek. “Ah, Vino! Jangan bikin gue tambah galau dong!,” cetus Adel. Vino masih sumringah sambil asik mengerjakan soal-soal.
            “Kemarin dia sms gue gitu,” titah Adel. “Hah?,” Vino tertegun, “sms lo?!.” Adel mengangguk. “sejak kapan dia sms lo?,” tanya Vino. “Sebulan yang lalu sih,” jawab Adel. “Terus? Dia mulai gak jelas gitu?,” tanya Vino. Adel mengangguk. “Pedekate ya?,” tanya Vino. Adel mengangguk. Vino menghela nafas dan mengucapkan pertanyaan terakhir, “Nembak?.” Adel mengangguk. Suasana menjadi hening. Adel masih asik menyantap cemilannya dan Vino berusaha focus pada pekerjaannya. “Pajak jadian ya!” seru Vino membuat Adel tersedak. Vino cengengesan. “GAK!,” cetus Adel.
           
Tujuh bulan kemudian, sepulang sekolah..
            “Vin, kok sendiri?,” tanya Dela, “biasanya lo sama Adel?.” Vino terdiam dan mengangkat bahunya. Dela sejenak melihat Adel dan Ardi jalan bersama dengan wajah sumringah, dibandingkan dengan wajah Vino saat ini, raut wajah yang tidak terbaca. “Gue pulang dulu ya,” ujar Vino meninggalkan Dela di tempatnya.
“Halo? Adel?” titah Dela di telepon. “Eh, iya? Dela ya? Ada apa?,” jawab Adel. “Hai, hehe. Gue ganggu lo gak?” Tanya Dela. “Hah? Ganggu? Gak kok, hehe,” ujar Adel. “Adel, kok lu sekarang jarang sama Vino sih?” Tanya Dela. “Eh, Dela kok tiba-tiba ngomong begitu? Hmmm, gue sibuk. Bukannya gak mau sama Vino,” ujar Adel. “Sibuk? Sibuk sama Ardi?,” Tanya Dela. “Gak gitu juga, Dela. Oh iya, udah dulu ya, gue baru inget gue harus ngerjain PR Kimia, dagh, Della. *tut tut tut tut*,” Dela menghela napas dan mematikan handphonenya.
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Adel dan Ardi memutuskan untuk pergi ke Dufan, mereka mengajak Dela dan Vino pergi bersama. Dela dan Vino cukup senang, ternyata Adel masih mempedulikan mereka.
Sesampainya di Dufan, mereka menaikki wahana kora-kora. Mereka berteriak histeris saat kora-kora berayun semakin kencang. Kemudian mereka menaikki wahana ombang-ambing. Adel menatap sekilas wajah Vino yang memulai memucat dan ia tertawa meledek. Vino jadi ikut tertawa karenanya. Baru saja dua wahana yang mereka naikki, berhasil membuat Vino dan Adel muntah-muntah.
“Abis ini main apa lagi?,” Tanya Adel masih semangat. “Udah, Del. Gak kapok apa udah dibuat muntah gitu?,” titah Vino. Dela tertawa karena menyaksikan tingkah kedua sahabat labil ini. “Say, aku mesti pergi nih, sory ya,” ujar Ardi pada Adel. “Say?,” batin Vino. Ardi mengecup dahi Adel yang bertampang polos itu. Dada Vino terasa sesak menyaksikannya. “Mau kemana?,” Tanya Adel. “Aku ada urusan penting, susah dijelasin, udah ya, bye, hati-hati,” Ardi berjalan menjauh dari area mereka berdiam. “Naik histeria yuk?,” ajak Dela berusaha mencairkan suasana. “Yuk!,” sahut Adel ceria. Vino masih membisu. “Baru 7 bulan pacaran, bisa-bisanya segampang itu mengecup Adel?,” batin Vino.
 Setelah bermain histeria, mereka memutuskan pergi melalui rumah miring. “Aduh, susah, pusinnggg,” ujar Adel sambil berusaha untuk menyelesaikan perjalanannya ke luar rumah miring itu. “Hahaha, seru tau,” ujar Vino. “Iiihh, ketawan katroknya nih si Adel,” ledek Dela. Adel dibuat  kebingungan oleh kedua sahabatnya yang puas meledek dirinya. Tiba-tiba, kaki Adel tergelincir dan tak sengaja memepetkan Vino ke dinding. Vino menangkap Adel. “Aduh, aduh, gimana nih, gue gak bisa berdiri,” titah Adel khawatir. Dela dan Vino tertawa melihat tingkah Adel yang ribet. Ahh, dengan susah payah akhirnya mereka berhasil melewati rumah miring itu.
Sudah 7 wahana yang mereka mainkan bersama, yaitu: kora-kora, ombang-ambing, histeria, bianglala, tornado, jet coaster dan niagara-gara. Wajah mereka terlihat gembira dan penuh tawa. Mereka memutuskan untuk pulang bersama karena hari mulai mendung. Tapi sesuatu menimpa…..
Adel menyebrang jalan, dan tak disadarinya sebuah mobil Nissan menuju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Ia tertegun dan……semuanya gelap.
Sirine mobil ambulance terngiang-ngiang di sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Husada.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Adel terbangun dari ketidaksadarannya. Didapati dahinya dibalut perban dan tangannya diinfus. “Adel?,” titah Dela meyakinkan bahwa Adel telah sadar. “Del, Vino mana?,” tanya Adel. Dela diam sejenak dan membelai rambut sahabatnya itu. “Lo gak usah mikirin dia dulu, lebih baik lo istirahat,” ujar Dela. “Vino mana?,” suara Adel mulai serak, “jawaabb,” lanjutnya. “Vino di UGD,” jawab Dela.
Adel berlari sambil membawa infusnya menuju ruangan dimana Vino dirawat. Didapati diri Vino diberikan selang oksigen di hidungnya, kepala dan tangan kirinya dibalut perban, tangannya di infus, dan ia belum sadarkan diri. “Del, Ardi mana?,” Tanya Adel. “Dia gak bisa dateng,” jawab Dela. Adel terdiam dan mendekati Vino.
Mobil Nissan itu semakin mendekat dan Adel tidak tau apa lagi yang harus ia perbuat. Ia memejamkan matanya. Vino mendorong Adel, tanpa sengaja membuat dahi Adel terbentur keras oleh dinding pembatas.
“Del, Vino kecewa sebenernya pas denger lo jadian sama Ardi,” ujar Dela. “Dia padahal udah anggep lo sebagai adiknya sendiri. Tapi setelah dia tau lo jadian sama cowok kayak Ardi, dia kecewa,” lanjutnya. Adel menatap Dela dalam. “Lo tau gak, dia sempet nangis?,” Tanya Dela. “Lo inget gak, keadaan dia sama mamanya kayak gimananya? Berantem terus. Lo inget gak, saat dia bela-belain jenguk lo pas lo sakit. Inget gak saat itu pipinya memar? Itu karena dia ngeberontak perintah mamanya dan alhasil dia dihajar. Cuma demi tau gimana keadaan lo,” titah Dela. “Lo inget gak,” Adel memeluk Dela dan menangis sebelum ia melanjutkan ucapannya. “Dia rela loh sakit-sakitan demi nemenin lo makan gulali, sampe-sampe dia batuk parah,” ujar Dela. “Eh, taunya lo ternyata sama Ardi. Emang apa bagusnya Ardi?” Tanya Dela. Adel melepaskan pelukannya dengan wajahnya yang masih sembap. “Gue pingin ubah dia jadi cowok yang lebih baik,” jawab Adel. “Tapi menurut gue, lo gak bisa ubah dia. Malah lo yang kebawa. Sejak lo sama Ardi, lo berubah. Gak pernah ada waktu buat gue dan Vino. Bandinginlah Adel, sejak lo sama Ardi dan sebelum sama dia gimana?,” Tanya Dela membuat Adel terdiam. “Tapi waktu itu Vino ketawa saat dia tau kalo gue sama Ardi,” ujar Adel. “Oh, setegar apa seorang cowok yang hatinya sakit tapi masih bisa ketawa supaya gak bikin lo kepikiran?,” Tanya Dela. “Lo sayang Ardi?,” lanjutnya. Adel mengangguk. “Ardi sayang lo? Kalo iya, apa buktinya?,” Tanya Dela berhasil membuat Adel terdiam lagi.
***
Tanggal 25 Oktober 2010, keberangkatan Vino ke Singapore untuk berobat. Adel sedang berada di perkawinan saudaranya dan tidak mengetahui rencana keberangkatan Vino saat itu. Baru dua minggu yang lalu mereka berdua keluar dari rumah sakit. Adel sembuh total, tetapi Vino mendapati dirinya terserang gangguan  tulang bagian belakang.
Adel menerima sebuah panggilan dari Dela melalui ponselnya. Ia tertegun beberapa saat mendengar ucapan Dela dan segera berpamitan dengan keluarganya menuju bandara. Sepanjang perjalanan, Adel mencoba menghubungi Vino, tapi panggilannya tak terjawab. Adel gelisah, dan menaikkan kecepatan kemudinya.
Jam digital Honda Jazz-nya menunjukkan pukul 13:45. “Jam 2 Ardi udah take off. Aduhh, gimana nih. Tuhan, tolong kasih aku kesempatan lah, sekali ini aja. Plisss,” mata Adel mulai berkaca-kaca. Ia mengemudikan mobilnya dengan cekatan, berusaha mencari jalan tercepat agar ia segera tiba di Bandara Soekarno-Hatta.
Sesampainya di bandara, Adel berlari menuju terminal 2, dimana tempat keberangkatan Vino ke Singapore. Semua mata tertuju pada dirinya, yang masih menggunakan gaun berwarna kuning dan dadanan yang membuat dirinya berbeda.
Adel tak dapat menemukan Vino. Ia gelisah dan hampir menangis. Tatapannya ia arahkan ke sekitarnya tapi tak berhasil juga ia temukan dimana Vino berada. Ia memutuskan untuk menelepon Dela. “Del, gue gak ketemu Vino. Dia udah masuk kan? Del, gimana dong, bantu gue. Gue pingin ngomong sama dia. Gue takut gak bisa ketemu dia lagi,” tubuh Adel menjadi letih dan terduduk di atas bangku panjang di tepi ruangan. Ia menangis dan mematikan ponselnya. “Udalah, gue gak bisa ketemu sama Vino lagi. Jujur aja, gue nyesel gue pernah jadian sama Ardi. Vin, maafin gue ya udah kecewain lo, semoga lo bisa ngerasain apa yang gue rasain sekarang. Gue gak bisa jadi sahabat atau bahkan jadi pasangan yang baik buat lo,” batin Adel, air matanya semakin deras membasahi pipinya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan memutuskan untuk pulang.
“Adel?,” suara yang tak asing itu terdengar di telinga Adel. Ia menoleh, dan tepat di belakangnya ia mendapati mamanya Vino. “Tante, Vino dimana?,” Tanya Adel. “Tuh,” beliau menunjuk ke belakang Adel dengan senyuman. Adel menoleh. Ia tak bergerak, ia membiarkan Vino mendekat.
Mata Adel mulai berkaca-kaca tapi ia berusaha agar Vino tidak melihat raut wajahnya. Tetapi Vino mengangkat wajah Adel yang berhasil meneteskan air mata kesekian kalinya. “Kenapa di sini?,” Tanya Vino. “Jangan pergi lahh,” ringis Adel. Vino mengerutkan keningnya sambil tersenyum. “Ada Dela, nanti gue juga balik, dadahh,” Vino membelai rambut Adel dan berlalu. “Vino! Jangan pergi. Gue gak mau jauh dari lo lagi. Udah cukup sejak gue sama Ardi aja,” Adel menangis, ia berusaha meredam isakan di tenggorokannya. “Nanti gue balik kok,” ujar Vino lagi. “Iya gue tau, tapi gue gak mau sebentar aja gak sama lo. Ngerti gak sih?!” cetus Adel. “Apa?” Tanya Vino. Adel terdiam sejenak seperti sedang menyiap suatu kata-kata. “Gue sayang sama lo,” titah Adel, ia seperti ingin mengucapkan lebih banyak kalimat lagi, namun semua itu tersangkut di tenggorokannya. Suasana menjadi menjadi hening. Tawa Vino pun mulai terdengar. Adel mengernyitkan dahi. “Kok ketawa sih? Gue serius! Gak menghargai banget sih lo!” cetus Adel. Vino menarik Adel ke dalam pelukannya erat-erat. Wajah Adel terasa panas, ia dapat mendengar degup jantung dalam dada Vino saat itu. “Maaf ya,” ujar Vino. Adel melepas pelukannya dan memasang wajah heran. “Maaf kenapa?” Tanya Adel dengan suaranya yang masih serak. Vino terdiam dan menghela napas. “Maaf..gue..,” ujar Vino tak melanjutkan perkataannya. “Maaf apaa??! IHH!” cetus Adel memukul dada Vino dan matanya mulai berkaca-kaca lagi. Vino tertawa dan menangkap lengan Adel. “Maaf gue udah buat lo ngomong kayak gini duluan, gue juga suuaaayaaangg banget banget sama lo. Cup, cup, cup. Jangan nangi dong, dek,” ujar Vino dengan wajah meledek. Adel berteriak, ia tidak terima dirinya dibuat penasaran. Vino memeluk Adel sekali lagi, “Nanti gue balik, tungguin gue ya. Doain supaya operasinya berhasil,” ujar Vino. Adel membalas pelukannya, ia ingin menangis, tapi ia berusaha untuk meredam kesedihannya. “Iyalah, Vin. Pasti gue doain. Pasti berhasil kok operasinya. Cepet balik dengan selamat yah,” suara Adel mulai serak.
Ia tak percaya ia dapat mengucapkan kalimat-kalimat tadi pada Vino. Ia menyadari bahwa yang ia sayangi adalah seseorang yang sudah ia kenal jauh sampai ke dalam hatinya. Ia menemukan seseorang yang rela melakukan apa pun demi dapat melihat orang yang ia sayangi tersenyum.
“Tanpa lo, Dela, gue dan Vino gak akan mungkin sampe kayak gini. Terimakasih ya, Del. Lo yang buat gue sadar ternyata cowok jutek, judes, galak, iseng, dan tak bermoral kayak Vino ini adalah pilihan gue. Ups, hehe. Tapi, Vino beda dari cowok lain, itu yang buat gue menyadari kalo gue beruntung memiliki dia. Haaahhh…Life’s good,” Adel mengirim pesan singkat pada Dela setelah melepas kepergian Vino untuk berobat ke Singapore.
***
Dua minggu kemudian, tanggal 8 November 2010..
“Happy birthday to Adel… Happy birthday to Adel, happy birthday, happy birthday, happy birthday, Adel….” Suara nyanyian itu membuat Adel terbangun dari tidurnya.
            Dilihatnya jam menunjukkan pukul 7 pagi. Ia beranjak dari tempat tidur, dan membuka pintu kamarnya. Adel tertegun dengan mata berbinar-binar mendapati temen-temannya mengadakkan surprise party di hari ulang tahunnya dengan membawa tamu istimewa baginya.
          “VINOOO!!!” teriaknya.
selesai

No comments:

Post a Comment